Sabtu , November 18 2017
Home / Uncategorized / WHO Dukung Pemberantasan Schistosomiasis di Indonesia

WHO Dukung Pemberantasan Schistosomiasis di Indonesia

Indonesia hingga kini menjadi satu-satunya negara di kawasan Asia Tenggara yang masih memiliki masalah schistosomiasis. Ini adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh cacing Schistosoma dan dibawa oleh keong Oncomelania yang ukurannya tidak lebih besar dari bulir padi.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2016, penyakit yang sering disebut sebagai demam keong itu hanya dijumpai di 5 desa di Kabupaten Sigi dan 23 desa di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, yang berpenduduk 30.639 orang.

Penularan schistosomiasis terjadi dengan cara larva cacing Schistosoma menembus kulit, masuk ke tubuh manusia dan tumbuh menjadi dewasa, bertelur, lalu telurnya keluar bersama tinja. Jika penderita schistosoma buang air besar sembarangan maka telur Schistosoma akan tersebar di tanah dan lingkungan menetas menjadi larva dan masuk ke dalam tubuh keong Oncomelania.

Larva ini juga dapat masuk ke dalam tubuh hewan mamalia seperti sapi, kerbau, kuda, dan anjing. Hewan-hewan ini dapat menjadi sumber penularan dengan menyebarkan telur Schistosoma melalui tinjanya.

Dr. Taufan Karwur, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Poso, dalam keterangan kepada VoA (25/7/2017) menyebutkan penanganan schistosomiasis kini diarahkan pada upaya eradikasi atau memberantas habis penyakit itu. Kini dengan dukungan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Pemerintah Kabupaten Poso pada 29 Juli 2017 mendapat kesempatan untuk melakukan studi lapangan selama 6 hari di China sebagai salah satu negara selain Jepang yang telah sukses melakukan pemberantasan habis schistosomiasis.

“Setelah sekian tahun penanganan schistosomiasis di Poso, kita sekarang meningkat ke rencana eradikasi. Eradikasi artinya memberantas habis schistosomiasis dan untuk bisa mewujudkan rencana eradikasi bekerjasama dengan WHO, kita belajar ke negara yang sudah berhasil melakukan eradikasi. Antara lain negara-negara yang sudah berhasil eradikasi schisto itu Jepang, China. Jadi kita belajar ke China,” ujar dr. Taufan Karwur.

Penanganan schistosomiasis di Sulawesi Tengah telah dilakukan sejak tahun 1981. Belum tuntasnya penanganan penyakit itu terkendala pada banyaknya lokasi atau fokus dari keberadaan keong yang menjadi inang cacing Schistosoma, yang umumnya merupakan lokasi-lokasi lembab dan tergenang air dalam waktu lama.

“Kalau manusianya itu diobati dia sembuh, tetapi kan ini dia punya vektor perantara keong. Keong yang memang asli dari situ. Pemberantasan keong itu yang masih menjadi masalah karena fokus-fokus keong ini selalu ada di lahan-lahan tidur, di daerah-daerah yang tergenang air,” imbuh dr. Taufan Karwur.

Eradikasi akan dilakukan dengan melibatkan Dinas Pertanian, Dinas Peternakan, Dinas Pekerjaan Umum, Badan Lingkungan Hidup, serta dukungan dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, Pemerintah Pusat dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Kristovel Sampali (43) kepala desa Wanga, Kecamatan Lore Peore menilai penanganan schistosomiasis memang sudah harus dilakukan secara tuntas agar warga masyarakat di Lembah Napu dapat beraktivitas tanpa lagi diliputi kekhawatiran terinfeksi schistosomiasis.

Ketika terinfeksi penderita akan merasakan gejala awal berupa demam, mual, perut terasa kembung disertai rasa lesu, sehingga sulit beraktivitas. Gejala itu baru dirasakan dua hingga tiga bulan setelah larva cacing masuk ke tubuh, yang juga disertai dengan gejala gatal dan merah di kulit.

“Awal-awalnya itu paling merasakan demam, terus merasa mual, perut terasa kembung, kurang nafsu makan. Harapan kita itu sebagai masyarakat yang ada di Napu, saya pikir itu bagaimana pemerintah dalam hal ini khususnya yang menangani schistosomiasis ini benar-benar punya perhatian dan kepedulian untuk memberantas semua lokasi fokus Schisto yang ada di Napu ini,” ujar Kristovel Sampali, Kepala Desa Wanga, Kecamatan Lore Peore Kabupaten Poso Sulawesi Tengah.

Sejauh ini upaya pencegahan dan pengendalian schistosomiasis di Sulawesi Tengah telah berhasil menurunkan angka prevalensi dari 5,9 persen pada tahun 1989 menjadi 1,2 persen pada tahun 2016. Hal itu dilakukan di antaranya dengan penyuluhan kesehatan agar masyarakat menghentikan kebiasaan buang air besar di sembarang tempat dan mengobati penderita. Namun demikian, tanpa penanganan secara tuntas lokasi fokus keberadaan cacing Schistosoma dan keong Onsomelania, siklus penyakit itu akan terus berulang. [yl/uh] (www.voaindonesia.com)

Check Also

PBB: Jumlah Orang Kelaparan Di Dunia Terus Bertambah

Tindakan dini oleh masyarakat internasional telah berhasil mencegah agar kelaparan tidak meluas, tetapi jumlah orang …

Powered by themekiller.com